Otomatis

games hp

Hai kawan bunda…

Bagaimana weekend hari ini? Putra putri nya sudah libur sekolah kah? Biasanya kalau liburan kemana kawan? Sepertinya menarik sekali ya kalau jalan-jalan ke sebuah pulau yang dikelilingi air  yang jernih…, duduk di tepi pantai  menggenggam tangan orang yang kita sayangi, sambil menghirup udara laut. Lalu menatap langit biru sambil mengawasi anak-anak yang bercanda ceria,  bermain di tepi laut yang riak air nya tenang. Masyaa Allah sungguh apik pemandangan yang Allah ciptakan  ya kawan.

Ehh…tapi ini bulan Desember kawan, akhir tahun menjelang awal tahun. High Season looh harga  tiketnya kalau mau terbang ke pulau destinasi wisata alam.  Kalau tak bisa berlibur jauh saat ini, tak apalah kawan ya, in syaa Allah liburan nya anak-anak  masih bisa kita rancang dengan kunjungan edukasi ke tempat-tempat yang bermanfaat. Seperti di bulan ini in syaa Allah saya akan ajak anak-anak ke beberapa perpustakaan dan tempat wisata alam di  sekitar Depok. Atau bisa juga mengunjungi beberapa kawan yang lebih mahir membuat prakarya tangan semisal buket bunga flanel untuk anak-anak pelajari. In syaa Allah kawan, semoga Allah mudahkan, semoga Allah lancarkan. Do’akan kami ya kawan.

Di sela-sela liburan pun kadang ada waktu waktu yang membosankan atau sedang jenuh atau sedang pusing ya kawan. Misal ada yang bosan saat nunggu antrian panjang untuk masuk ke tempat wisata. Ada juga misal yang jenuh karena pas di tempat wisata tidak berani naik wahana yang memicu adrenalin macam kora-kora. Alhasil jadinya kebagian menunggui di sudut tempat wisata, ditemani tas-tas berisi baju ganti anak-anak atau cemilan hehe…

Kalau sudah demikian, games di hp kadangkala menjadi pilihan penghalau galau ya kawan, eh penghalau bosan maksudnya. Misalnya mau main apa tuh namanya bola yang bisa loncat loncat tuh kawan? Nah…, betul kawan, bounce ball namanya kawan yaa.  Atau ada juga yang bounce tales ya, petualangan si bola merah melewati berbagi rintangan air, dedaunan, meloncat menaiki bukit, kurang lebih begitu ya main nya. Kawan pernah coba kah?

Kalau sudah masuk ke layar games nya…, nanti mulai level 1. Kita klik start, otomatis kan langsung muncul tuh si bounce, bola merah. Lalu mulai deh tuh  jari kita geser ke kanan, lalu otomatis lagi deh tuh si bola merah geser ke kanan. Lalu kalau kita arahkan ke atas nanti otomatis lagi tuh bounce naik ke atas. Otomatis ya kawan. Macam tidak perlu effort atau usaha lebih untuk sesuatu yang otomatis. Macam seolah tak melewati proses berpikir. Walaupun sebetulnya  itu pun ada proses berpikir di otak, ada koordinasi yang terjadi di otak bahwa bola merah harus digerakkan ke kanan, maka jari arah nya ke kanan. Namun karena sudah otomatis, jadi proses berpikir yang terjadi di otak sangat cepat.

Kinerja otomatis lain  terjadi ketika seseorang bangun tidur akan otomatis sesuai kebiasaan nya kan kawan. Ada yang langsung baca do’a bangun tidur, cuci muka dulu lalu gosok gigi. Ada juga yang bangun tidur itu duduk dulu, macam loading dulu, minum air hangat dulu baru cuci muka dst. Ada juga kan  yang nyari hp dulu ngecek wa dulu.  Namun jangan lanjut main games bounce yaa kawan, nanti malah kesiangan dan  lupa mandi pula haha.

Nah coba deh kawan kawan bayangkan sejenak, itu kan otomatis banget sesuai gaya nya kawan, bisa jadi itu adalah kebiasaan yang terbentuk dahulu kala sejak masa kecil kawan. Atau kebiasaan yang kemudian berubah karena kawan melewati proses belajar. Misal yang tadinya tidak minum air putih hangat, lalu Qadarullah pernah sakit, dan dokter menyarankan minum air putih sebagai ikhtiar membantu sistem pencernaan kawan. Air putih hangat dapat mengatur pergerakan usus, saat ada makanan yang harus dicerna, in syaa Allah. Setelah itu, kawan pun berusaha merutinkan minum air putih hangat setelah bangun tidur. Dan tentu saja itu  melewati proses niat, latihan, tekad dan ketekunan kawan bukan? Bukan sehari dua hari lalu kebiasaan baru itu menjadi otomatis.

Nah…, dalam perjalanan kita  menjadi orang tua juga sering kali apa-apa yang otomatis itu terkadang bisa mempengaruhi orang-orang yang ada dalam sistem kita kawan. Kalau kita saat ini sudah menjadi seorang ayah atau bunda, maka orang terdekat yang ada dalam sistem kita adalah anak-anak kita kawan. Putra putri kita.  Untuk ayah yang muslim misalnya, saat dengar azan, otomatis  sholat tepat waktu berjama’ah di masjid. Untuk bunda yang muslimah, setelah selesai magrib otomatis tilawah baca Qur’an misal nya. Atau ada ayah bunda yang kalau pagi itu otomatis 30 menit kudu lari atau jalan pagi berjemur matahari. Ketika otomatisasi yang baik terpengaruh ke dalam jiwa-jiwa anak kita, Alhamdulillah ya kawan. Semoga amalan itu menjadi manfaat untuk anak – anak kita di masa depan. Dan juga semoga amalan itu menjadi  salah satu pemberat timbangan kebaikan kita di hadapan Allah sebagai orang tua.

Lalu…apa dalam perjalanan menjadi orang tua, kita akan mengalami yang senang senang saja kawan. Semua ada dalam kendali kita, termasuk segala tingkah laku anak anak kita. Menurut kawan bagaimana? Apakah iya ketika ayah bunda yang punya anak belum baligh lebih dari satu, kemudian tidak pernah mendengar anak-anak rebutan mainan, bertengkar, menangis, tarik-tarikan baju, bereksplorasi dengan baju-baju yang seharusnya rapi namun malah jadi mainan, dsb.  Kawan yakin kawan tidak akan menemukan itu ketika menjadi orang tua?

Lalu ketika terjadi yang demikian, apa yang kawan harapkan? Kawan cukup bilang, “berhenti nangis nya”, “kalian brisik” dengan nada garang, lalu kawan berharap anak-anak akan otomatis berhenti. Lain waktu, ketika anak-anak pulang sekolah belum sempat mereka bicara,  sampai rumah maka kawan  kasih instruksi lagi “kamu, lekas mandi”, ” terus kalau main lekas beresin” , “les matematika jam 4” , “baju taroh sana”, “tas taroh situ”, “sepatu taroh sini”. Lalu, setelah ucapan itu selesai, harapan nya anak-anak akan otomatis mengerjakan itu semua dengan durasi cepat, tepat, akurat. Begitukah kawan?

Kawan sholeh sholehah, anak-anak itu bukan games bounce si bola merah. Jarimu geser kanan, dia langsung geser ke kanan. Anak-anak itu makhluk hidup, punya hati. Apalagi jika usia mereka belum aqil baligh. Bahkan untuk  belajar sholat saja ada tahapan usia dan cara memperkenalkan nya. Maka menjadi orang tua itu  buka berarti berhenti belajar, terus belajar dan berproses.

Untuk otomatis bangun tidur lalu minum air putih hangat saja kita butuh belajar, butuh tahu ilmu nya kenapa harus minum air putih kenapa gak kopi saja. Apalagi ketika  menjadi orang tua, apapun profesi nya, apapun latar belakang pendidikan nya dulu, ia tetaplah guru dan teladan bagi anak-anaknya, yang otomatis akan ditiru oleh anak-anaknya.  Bukan begitu kan kawan?

Salah satu gaya pengasuhan yang diteladankan oleh Nabi Ibrahim AS adalah dialogis. Berdialog dengan putra nya.

Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaa Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (QS. Ash-Shaaffaat 102)

Begitulah kawan, seorang Nabi pun masih melakukan dialog dengan anak nya. Tidak serta merta ketika mendapat mimpi, lalu meminta anak nya langsung berbaring untuk disembelih.

Semoga kita juga dapat membangun komunikasi positif yang dialogis dengan anak-anak kita dan orang-orang terdekat kita ya kawan. Bukan berarti kita adalah seseorang yang sempurna. Orang tua yang sempurna, kita tidak marah, kita tidak emosi negatif. Kita juga  bisa lelah, kecewa, pusing, sakit, sedih,  dsb. Namun bukan berarti kita akan  berhenti belajar, berhenti berproses.  Siapapun kita, apapun masa lalu kita, bukankah kita mengharapkan predikat akhir hidup yang sebaik-baik nya? Pun ketika kita telah menjadi orang tua, bukankah kita ingin menjadi orang tua yang terus belajar lebih baik dalam pandangan Allah ?

Wallahu A’lam Bishawab

^^ catatan belajar bunda

^^ remedial menulis

^^ tulisan lepas

^^ hari 1

^^note : tulisan berikut pernah saya temukan saat dulu kuliah di UNJ

Sebuah tulisan dari Dorothy Law Nolte

“CHILDREN LEARN WHAT THEY LIVE”
Jika anak dibesarkan dengan celaan,ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan,ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi,ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan,ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian,ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan,ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman,ia beajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan,ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

^^ semoga bermanfaat atas izin Allah

 

 

 

 

Jatuh Cinta

Sahabat+Masa+Kecil

Bismillah…

Hai kawan bunda, bagaimana makan siangnya hari ini? Sudah coba makan mie ayam hijau seperti yang pernah saya tuliskan di blog saya beberapa waktu lalu? Hehe.., masih ingatkah? Yang itu looh kawan, yang mie nya itu warna hijau segerrr nampak indah dipandang mata , dan kaldunya nampak sedap di lidah, masyaa Allah.

Atau siang ini kawan bunda makan dengan menu lauk yang biasa-biasa saja, namun teman makan nya adalah seseorang yang luar biasa. Mungkin dia yang jarang bisa menemani mu makan bersama. Dia yang selalu kawan rindukan senyumannya dan pelukan nya. Menemani nya menghabiskan makan siang nya, sambil dia merapikan dokumen kerja nya. Sambil sesekali menanti pandangan mata nya, beradu bertemu pandangan matamu. Ahahay… so sweet sekali ya kawan, mirip macam candle light dinner gitu yaa.

Eh tapi ini kan makan siang kawan, bukan makan malam. Haha.. Atau kawan tadi ditemani si dia yang wara wiri di dapur sambil sesekali mengecek kondisi putra putri yang sebentar-sebentar berteriak… “bun…, mau nya sama bunda”, lengkap dengan nada rengekan oktaf tinggi  yang kadang menguras kesabaran. Lalu menghela nafas sejenak, sambil istighfar di hati.  Lalu setelah sedikit tenang ia kembali berusaha menemani mu makan siang. Siapa dia kawan?

Hm…dia pasangan halal mu kan kawan, entah istri atau suami.  Jauh di dasar hati, seringkali kita  merindukan saat berbagi cerita, santai berdua dengan nya kan. Entah sambil makan siang atau menyetir mobil dsb. Yaa kawan…, dia kekasih halalmu yang sempat membuat mu jatuh cinta, entah duluuuuuu sekalii, kemarin, hari ini, atau bahkan hingga  tadi siang. Seutas senyuman dengan obrolan tentang misi masa depan membuat mu kian bersemangat menjalani hari. Betul kan kawan? Karena apa kawan ya bisa demikian, lagi-lagi karena dia adalah pasangan halal mu. Ada sakinah (tenteram) bersama nya  seperti termuat dalam ayat berikut.

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran) – Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar Rum (30) : 21) 

Apa kawan masih merasakan jatuh cinta pada kekasih halal mu saat ini kawan? Semoga iya kawan. Semoga Allah perbaiki rasa jatuh cinta itu karena Nya.  Semoga Allah melimpahkan pertolongan Nya, apapun bentuk ujian dan masalah nya. Banyak hari yang sudah dihabiskan bersama kekasih halal itu, banyak rindu yang tersemat di hati ketika menantinya pulang. Banyak malam yang telah dilewati dengan  bermunajat di atas sajadah,  untaian do’a yang senantiasa dikirim untuk kebaikan-kebaikan nya. Di atas hamparan sajadah, kadang tetes air mata tak terasa bergulir di sepertiga malam. Itulah bagian jatuh cintamu kawan. Berharap tak hanya bersama di dunia namun di Jannah Nya Allah. Kadang ada kawan kita Yang ang Qadarullah tidak bisa dekat secara fisik dengan kekasih halal nya, tapi bukan kah jatuh cinta karena Allah itu selalu bersemi di hati? Semoga Allah mengikat cinta karena Nya di hati mereka yang halal namun terpisah jarak.

Oh ya kawan, ketika kau  bertemu kembali dengan kawan masa kecilmu,  yang jauh kau kenal sebelum bertemu kekasih halal mu itu , bisa jadi kau sudah lebih dulu memaknai apa itu jatuh cinta versimu dan sohib sejati mu. Taukah kau kawan, karena kita adalah makhluk sosial, bertemu sohib itu kadang seperti bertemu separuh jiwa mu. Kau bisa bercerita semua rasamu, semua logikamu tanpa harus berpikir siapa dia, siapa aku. Bahkan simpatimu kadang bisa mengalahkan logikamu. Menatap bintang laut bersama saat berlibur di pesisir pantai, hingga hampir tak sadar di sekeliling mu ada siapa.  Berbicara dengan mata penuh binar. Mendengarkan seluruh resah gelisahnya, luka lama nya, luka  lama mu, luka baru nya, luka baru mu, kapanpun sohibmu mau. Bercanda riang kembali ke masa lalumu, tanpa sadar berapa banyak waktu berlalu.

Sohib sejati, bak kekasih hati,  mengisi ruang hati. Seperti sevisi misi hati. Mengenang masa usia dini, seolah ia akan menemani hingga usia tua nanti. Berlari meretas mimpi dunia, tanpa sadar diri terkontaminasi. Alih-alih mewarnai, bisa jadi kau terwarnai kawan. Jika dia sungguh yang sejati, dia akan mengingatkan mu tentang kebesaran Illahi. Jika dia sohib sejati, dia akan mengingatkanmu tentang tempat kembali yang abadi, Illahi Robbi.

Sohib yang sholeh punya pengaruh untuk menguatkan iman dan terus istiqamah karena kita akan terpengaruh dengan kelakuan baiknya hingga semangat untuk beramal. Sebagaimana kata pepatah Arab,

الصَّاحِبُ سَاحِبٌ

“Yang namanya sahabat bisa menarik (mempengaruhi).”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Begitu besar pengaruh seorang sohib bagi sohib nya kan kawan. Secara alamiah, seseorang tanpa disengaja akan membenarkan kata-kata sahabatnya, sohib sejatinya, memaklumi perilakunya. Begitulah ketika sohib mengisi ruang hati.

Namun demikian, kekasih hati yakni istri  dapat pula lah disebut sohib bagi suami nya . Kata-kata ini ada dalam ayat berikut  :

فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ (33) يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (36)

 

Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya.

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan sebagai berikut:

Al-Bagawi mengatakan, as-sakhkhah artinya pekikan hari kiamat, dikatakan demikian karena kejadiannya memekakkan telinga sehingga hampir saja menjadikannya tuli.

(يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ * وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ * وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ)
pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. (‘Abasa: 34-36)
Yaitu dia melihat mereka, tetapi lari
dari mereka dan menjauhinya,
karena dahsyatnya huru-hara dan
kengerian yang terjadi pada hari itu.
Ikrimah mengatakan bahwa
seseorang berdua dengan istrinya,
lalu berkata kepadanya,
“Hai istriku, suami macam apakah
aku ini bagimu?”
Si istri menjawab “Engkau adalah
sebaik-baik suami.” dan istrinya
memujinya dengan pujian yang baik
semampunya.
Kemudian si suami berkata kepada
istrinya, ‘”Maka sesungguhnya hari
ini aku meminta suatu kebaikan
darimu dengan suka rela, barangkali
aku dapat selamat dari apa yang
engkau saksikan sekarang ini.
” Si istri menjawab, “Alangkah
mudahnya permintaanmu,
tetapi aku tidak mampu memberimu
sesuatu pun karena aku pun sedang
dicekam oleh rasa takut yang sama
seperti yang kamu alami.”
Wallahu ‘Alam ..
^^ catatan belajar bunda
^^ tulisan lepas
^^ remedial belajar menulis hari 1
^^cilangkap 05.12.2018

 

 

 

 

Balita gemar buku

photoshoot_baby-20170731-editor-007 (1)Hai bunda, apa yang terlintas dalam pikiran bunda tentang buku? Sesuatu yang terkesan membosankan kah? Atau sesuatu yang seru kah? Atau malah sesuatu yang begitu serius, yang berkaitan dengan tumpukan tugas-tugas seperti dari sekolah ananda atau dead line kantor bunda. Hehe…

Jawaban bunda mungkin bisa macam-macam ya. Namun, seperti sebuah pepatah disebutkan bahwa “buku adalah jendela dunia”. Dari sebuah buku, kadang kita tak perlu jauh-jauh ke belahan dunia lain untuk mencari tahu kebudayaan nya. Atau bagi bunda yang senang memasak biasanya punya koleksi buku resep chef terkemuka, sehingga tak kecewa ketika channel favorit acara memasak nya terlewat, karena tertidur sambil meng “nina bobo” kan bayi nya. Biasanya ada manfaat yang bisa kita ambil dari buku yang kita baca ya bun. Kita bisa tau banyak hal. Kita bisa belajar banyak hal dari buku.

Nah.., kalau buku bisa jadi “benda berguna” untuk kita, bagaimana kalau kita juga mulai memberikan buku pada ananda kita sejak bayi bun. Bisa jadi beberapa orang akan sanksi dengan hal ini. Untuk apa bayi diberikan buku? Bayi itu dikasih susu bukan nya buku. Ya betul bun. Bayi memang dikasih susu, namun demikian tak ada salah nya jika mampu, bayi atau balita kita juga dikasih buku sejak dini. Supaya balita kita gemar buku sehingga saat ananda sudah usia sekolah, dia sudah siap berinteraksi dengan buku. Kita tak kerja keras lagi untuk membuat nya mau baca buku bun. Apalagi ketika usia sekolah, buku buku nya isi nya pelajaran sekolah yang cukup menguras energi macam matematika, sains, bahasa, dan sebagai nya. Betul begitu bun?

Memberikan buku sejak dini kepada balita, bukan berarti kita akan mengajari nya membaca sedini mungkin bunda. Kata seorang pakar dalam buku “The Read Aloud Handbook” kita harus memastikan bahwa pengalaman awal anak dalam hal membaca itu tidak menyakitkan. Sehingga mereka akan senantiasa gembira mengingat pengalaman tersebut, kini dan selamanya. Tidak hanya untuk membaca di jam sekolah saja bun, namun tetap mau membaca buku meski mereka sudah tak lagi duduk di bangku sekolah. Ini lah yang disebut dengan gemar buku.

  • Menarik kan bunda, kita tidak perlu mengeluarkan ekstra usaha untuk anak-anak mau membaca buku, jika sejak balita sudah gemar buku. Berikut ini ada tips-tips supaya balita bunda gemar buku.
  • Niat yang lurus , agar ketika ada kendala menghampiri , bunda tetap yakin kalau buku bermanfaat untuk balita.
  • Kenalkan buku sedini mungkin. Bisa dimulai sejak bayi, bahkan bisa juga ketika janin masih dalam kandungan Bunda. Apapun buku yang bunda baca akan memberikan pengalaman untuk janin, karena suara yang paling sering didengar oleh janin adalah suara Bunda.
  • Pilihlah buku sesuai usia ananda. Sebagai contoh, jika ananda usia nya bayi di atas 3 bulan, Bunda bisa memulai dengan buku berbahan kain flanel atau kain berbusa tipis dengan warna cerah dan banyak gambar. Tidak dengan buku Yang banyak kalimat, karena prinsip kita supaya anak tertarik pada buku bukan untuk mengajari nya aplhabet.
  • Rutinkan waktu khusus untuk membacakan buku secara konsisten di tengah – tengah kesibukan Bunda. Bunda bisa pilih waktu menjelang tidur siang atau tidur malam ananda. Kalau pun belum bisa setiap hari, tidak apa-apa bun, berproses saja. Atau jika ingin berbagi jadwal dengan ayah untuk bergantian membacakan buku, itu akan lebih baik. Salah satu manfaat membacakan buku untuk ananda yaitu meningkatkan bonding/ kelekatan/ kedekatan orang tua dengan buah hati.
  • Membacakan buku dengan penuh cinta dan sesuai gaya diri nya Bunda. Karena energi cinta itu akan sampai ke balita bunda, sehingga ananda pun merasakam bahwa aktivitas dengan buku adalah sesuatu yang menyenangkan.
  • Menjadi teladan. Di waktu-waktu tertentu, bunda boleh membaca buku yang bunda sukai di hadapan balita yang sedang bermain dengan balok-balok nya misalnya. Karena contoh teladan akan lekat dalam diri ananda, bahkan hingga ia dewasa, seperti kata pepatah “children see children do”.
  • Tak lupa berdo’a pada Allah sang Pencipta, agar Allah meridhoi upaya bunda membiasakan balita gemar buku.

Bagaimana bunda, cukup mudah bukan?. Yuk mulai cari buku yang cocok untuk balita bunda. Ikuti tips-tips tadi, semoga pengalaman awal balita membaca buku bersama bunda nya menjadi pengalaman yang mengesankan dalam sejarah kehidupan nya.

*catatan belajar bunda

*Hari1 artikel

Bisa Apa

img20181129104220580375767.jpg

Bismillah…

Hai kawan bunda, sudah makan siang apa hari ini? Alhamdulillah, hari ini saya makan siang di warung mie ayam hijau. Warnanya menggugah selera, seger kawan… hijauuu, kuah kaldunya itu kayaknya sedep bener yaa, apalagi kalau makan nya pedas-pedas kan. Hm… Yummy. Dan tambah seru ketika makan nya bareng ibu ibu sholehah nan cantik jelita masyaa Allah, yaitu kawan kawan pengurus Persatuan Orang Tua Murid & Guru (POMG) sekolah putri putri saya. Tapi saya memilih makan nya tanpa mie dan tidak pedas kawan hehe. Kenapa demikian kawan ? Karena Qadarullah saya pernah mengalami rawat inap 5 hari di rumah sakit dengan diagnosis gejala typhoid. Sebelum rawat inap tersebut, sudah mengalami gejala demam nya selama kurang lebih dua minggu. Suhu badan naik, nyeri perut, lemes, dan mata rasaya nya kayak mau merem sepanjang hari kawan. Subhanallah..

Nah di masa recovery nya itu, di samping obat-obatan, dokter juga menyarankan untuk bed rest total serta jaga makanan. Yang utama dihindari adalah olahan mie dan yang pedas-pedas. Awal nya berat kawan, saya suka sekali makan pedas. Saya yang lahir di Sumatra tepatnya kepulauan Bangka Belitung, terbiasa menyantap makanan khas Lempah Kuning yang pedas sejak SD seingat saya. Belum lagi sambal belacan dengan aroma khas terasi bangka yang menggoda selera makan. Biasanya bisa nambah porsi makan jika ketemu dua menu tersebut.

Alhamdulillah, setelah berbulan-bulan menghindari makanan pedas, mulai terbiasa makan tanpa sambal. Alhamdulillah, Allah pulihkan saya. Sekarang bisa kembali beraktivitas membersamai tumbuh kembang putri-putri saya yang sudah sekolah di TK. Masyaa Allah, sungguh sehat itu nikmat kawan. Saya berpikir saya harus sembuh, saya harus sehat. Saya yang hidup di perantauan, jauh dari orang tua, long distance marriage dengan suami, jauh dari kerabat, saudara, ketika saya sakit siapa yang bisa mengurus putri-putri saya yang masih kecil-kecil? Siapa yang akan mengajari mereka tentang tauhid? Siapa yang akan mengontrol hafalan Qur’an mereka? Siapa yang memandu mereka muraja’ah (mengulang hafalan) Qur’an di rumah? Siapa yang akan memantau ziyadah (menambah hafalan) Qur’an mereka? dan sebagai nya dan sebagainya. Begitulah kawan, sehat itu luar biasa nikmat Alhamdulillah.

Saat itu sempat terlintas saya “bisa apa” tanpa Allah. Saat demam itu, rasanya fisik lelah dan lemah, bahkan mengangkat telpon dari ibu saya untuk bercerita dalam waktu lama itu sudah tidak kuat. Jadi berbaring saja. Dalam batin saya minta pertolongan Allah, kirimkan orang-orang yang bisa membantu saya sampai suami saya pulang dari tugas luar daerahnya, sampai adik saya datang dari Sumatra. Mungkin ada yang berpikir, ya sudahlah kalau ada uang nya kan mudah saja, apalagi tinggal di kota besar tinggal pesan online makanan, mau apa saja ada kok. Tidak sesederhana itu kawan. Kita bisa jadi punya uang banyak melimpah ruah, tapi saat sakit secara manusiawi kita butuh perhatian dari orang orang terdekat. Dan lagi pula, gejala typoid/ typus itu tidak boleh makan makanan yang beli instan di luar. Barangkali kawan yang pernah kena gejala typus paham ini ya.

Alhamdulillah, kemudian Allah kirimkan saya sahabat yang rutin membuatkan saya sayur bening, karena saat itu saya hanya boleh makan bubur lembek dan sayur bening. Tiap hari dia datang membawakan nya untuk saya. Terima kasih sahabat, semoga Allah membalas kebaikan mu dengan kebaikan yang lebih baik. Dia bukan orang yang puluhan tahun saya kenal, dia seorang muslimah yang baru beberapa bulan saya kenal ketika saya masuk kelas tahsin (perbaikan bacaan) Qur’an. Perhatian nya sungguh membuat saya merasa punya saudara baru saat itu.

Frasa “Bisa apa” dalam dunia pendidikan atau profesi kantoran dsb, menurut saya, mirip atau berpadanan dengan kata kompetensi. Sesekali mungkin kita pernah dengar celetukan misal nya “kompeten gak sih”? Kawan pernah dengar kata-kata seperti itu? Kompeten itu kaitan nya dengan kemampuan. Bisa apa? Sepakat kan kawan.

Di suatu kesempatan saya pernah bertemu asesor/ penguji yang berbicara tentang kurikulum berbasis kompetensi. Bahwa setiap orang itu punya kompetensi sesuai dengan bidang nya. Misalnya, cleaning service di sebuah mall. Nah di mall itu kan ada standar pekerjaan apa saja yang harus dilakukan oleh cleaning service tersebut semisal menyapu. Ada apa namanya tuh kawan? Yaa.., betul sekali, SOP namanya. Bukan sop yang jenis makanan berkuah itu looh. Ada SOP ( baca : es o pe) atau yang kita kenal dengan standar operational procedure. Bisa jadi dia si cleaning service lebih kompeten atau lebih bisa dari kita untuk urusan menyapu lantai yang terstandar waktu dan luasan tempatnya.

Contoh lain misal nya kompetensi menyetrika. Dibandingkan dengan khadimat / asisten rumah tangga nsaya,yang bertahun tahun salah satu pekerjaan rutin nya adalah nyetrika. Boleh jadi si khadimat lebih kompeten daripada saya dalam hal menyetrika. Atau mba mba yang kerja laundry kan kayaknya jago banget kan nyetrika nya, rapiiii dan wangiiii. Masya Allah.

Nah ketika saya sakit saat itu saya sempat terlintas kalau saat itu saya harus kembali kepada Allah, kompetensi terbaik apa yang akan saya persembahkan kepada Allah sebagai seorang yang mengaku muslimah? Astaghfirulloh…, amal yang mana yang akan jadi amal terbaik selama ini? Berapa jam dari puluhan tahun saya sekolah,yang sudah saya habis kan untuk belajar Qur’an?

Seperti hal nya cleaning service tadi, bukankah pemilik mall telah menetapkan SOP nya dan harus diikuti kan kawan? Bagaimana dengan kita kawan, kita mengaku muslim atau muslimah, apa kita sudah mengikuti SOP pemilik kita,? Allah Robbul ‘Alamin. Kalau cleaning servis tadi contoh nya ada tugas menyapu. Bukan kah muslim atau muslimah juga punya tugas bisa baca Qur’an dengan tartil?

Dan bacalah al-Qur’an itu dengan tartil. (Al-Muzammil: 4)
Lalu untuk mencapai standar tartil itu apakah tidak perlu proses kawan? Tidak perlu latihan ? Tidak perlu jadwal rutin? Bukankah Cleaning Service bisa menyapu sesuai SOP karena dia rutin menyapu setiap hari, sampai hafal sudut mana di mall yang sering banyak sampah bekas minuman kemasan misalnya. Lalu, ketika Cleaning Service itu seorang muslim atau muslimah, setelah mendapatkan hidayah dan taufik dari Allah Subhanahu Wata’ala, dia rutin belajar tahsin Qur’an, tekun belajar memperbaiki bacaan Qur’an nya, punya jadwal khusus belajar dengan guru Qur’an, mungkin kah si Cleaning Service itu bisa mencapai bacaan Qur’an yang tartil?

Kita yang mungkin katanya lebih terpelajar dari Cleaning Service, lebih bermartabat, lebih kaya, lebih cantik, lebih ganteng, punya banyak tanah, dsb dsb sudah punyakah jadwal demikian kawan?

Wallahu ‘Alam

Semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayah dan taufik Nya untuk kita dapat belajar membaca Qur’an dengan tartil. Semoga Allah istiqomahkan kita semua untuk bisa belajar membaca Qur’an dengan tartil.

^^ Semoga Allah mengampuni saya jika ada hal-hal yang keliru saya tuliskan disini. Sungguh yang benar itu datang nya dari Allah, dan yang salah adalah kekhilafan saya sebagai manusia, kawan. Saya bukan Ustadzah kawan. Saya ibu rumah tangga yang juga masih proses belajar Qur’an, “bisa apa” saya kawan hehe…(seperti judul tulisan hari ini), sekarang bisa nya menulis share atau curahan hati kurang lebih 1000 kata di blog

^^ hari 1 belajar menulis lagi

Nol

Bismillah…

Hai kawan bunda…, bagaimana siang mu hari ini? Bagaimana dengan agenda agenda hari ini? Sudah ada yang bisa di ceklis done kah? Semoga ada ya rampung ya kawan. Atau kalau pun belum rampung, ada yang sudah ber progress. Dan tentu nya harapan kita semoga Allah ridhoi aktivitas kita dari pagi tadi hingga malam ini, agar rahmat Nya senantiasa tercurah untuk diri kita, keluarga kita, anak anak kita, istri kita atau suami kita. Aaamiin ya Allah…

Berbicara tentang agenda, tak hanya yang kerja di kantoran saja yang punya agenda. Siapapun kau kawan, sesungguhnya kau punya agenda atau to do list kegiatan yang akan dijalani dalam hari -hari mu. Saya ambil contoh sebuah profesi yang kadang seperti tak dianggap sebuah profesi oleh sekelompok orang. Apa itu kawan? Profesi itu adalah Ibu Rumah Tangga. Kenapa ya kawan? Apa karena para Ibu Rumah Tangga itu tidak seperti perempuan – perempuan yang bekerja di kantoran? Punya seragam cantik ala marketing yang mata nya kadang sering pake kontak lensa warna-warni yang bisa memikat hati yang sengaja berlama-lama memandang nya. Atau karena dia tidak mampu berjalan anggun ala model dengan high heel ukuran 5 cm. Atau karena dia seolah tak mampu menghasilkan uang dan hanya menerima nafkah dari suami nya? Atau karena ibu rumah tangga hanya di rumah saja seolah tidak melakukan apa-apa?

Ketahuilah kawan, ibu rumah tangga itu juga profesi, namun kiprahnya ada di ranah domestik/ rumah nya. Kenapa profesi kawan? Karena ada kaitan nya dengan kompetensi. Ya kompetensi kawan walaupun dia hanya di rumah.

Ada beberapa alasan seseorang ibu memilih meninggalkan karir nya dan berdiam di rumah untuk bisa fokus pada pendidikan anak – anak nya. Karena apa kawan? Karena ibu itu sadar betul bahwa anak-anak adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Bahwa anak-anak nya itu diciptakan Allah dalam kondisi fitrah/ suci , dan nanti pada waktunya juga akan dikembalikan dalam keadaan fitrah atau sebaik-baik nya keadaan. Pernahkah kau mendengar itu kawan?

Jika kau pernah membaca tentang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anak nya, bukan kah itu artinya ibu itu guru pertama bagi anak-anak nya? Lalu ketika kau mendengar kata guru. Menurutmu guru itu perlu berkompeten atau tidak?

Karena saya seorang ibu muslimah, maka saya ambil contoh ketika seorang ibu akan menjadi guru Qur’an pertama bagi anak-anak nya. Kalau ibu itu misalnya lulusan pesantren atau ma’had, mungkin tak banyak kendala yang dia hadapi, karena memang sudah kompeten membaca Qur’an sesuai standar baca yang tartil. Namun, bagaimana jika ibu itu belum bisa membaca Qur’an dengan tartil. Lalu siapa yang akan bertanggung jawab terhadap hal ini kawan? Ayah kawan, karena jika ibu adalah guru maka ayah adalah kepala sekolah nya. Artinya sang ayah juga hendaknya terlibat dalam pendidikan anak-anak nya. Jangan sampai ayah hanya bisa mengomentari kekurangan sang ibu dalam mengajari anak-anak nya tapi tak pernah melibatkan diri dan tau bagaimana proses berjuangnya sang ibu belajar mengucapkan huruf hijaiyah yang benar makhroj nya.

Itu baru dari sudut ibu berproses menjadi guru bagi anak – anak nya. Apakah kau pernah membayangkan atau melihat langsung bagaimana seorang ibu meredakan tangisan anak anak nya di siang hari, sementara malam nya dia harus bergadang bangun per 2 jam sekali untuk mengurusi bungsu yang masih bayi? Kalau ada laki-laki yang dengan analisa logisnya, lalu dengan santai bilang ya itu memang tugasnya ibu. Hai kawan, semoga kau tak mengucapkan nya pada pasangan mu karena itu hanya akan meruntuhkan semangat nya. Hargailah proses nya, bukan semata – mata orientasi hasil nya. Dan apa iya karakteristik seorang pemimpin itu meruntuhkan semangat?

Dalam renungan selama belajar di kelas Ulumul Qur’an, akhirnya saya paham kenapa ada seorang ibu yang dulu saya temui, yang menganggap sholat tahajjud nya sebagai “me time” nya beliau. Karena ada hal – hal membuatnya semangatnya runtuh, namun dia tak bisa menumpahkan seluruh rasa sesak nya pada orang orang terdekat nya. Beliau meng nol kan hati nya kembali usai tahajjud itu agar tetap profesional menjadi guru pertama bagi anak – anak nya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan pertolongan pada ibu itu. Semoga Allah juga senantiasa melimpahkan pertolongan pada kita semua yang sudah menjadi ibu.

Aamiin ya Allah.

*cilangkap 27.11.2018

*catatan belajar bunda

Bukan “Pillow Talk”

Bismillah…

Hai kawan bunda…, apa kabar hari ini? Sarapan apa pagi ini kawan? Apa ada yang sarapan dengan roti pandan? Roti berwarna hijau dengan aroma pandan yang lembut, lalu diolesi dengan sedikit margarin dan selai kacang. Bisa juga kalau mau ditambahkan dengan beberapa potongan pisang berbentuk bulatan-bulatan kecil. Kemudian  dipanggang di teflon. Dan kau akan menghirup aroma bakaran yang cukup menggugah selera untuk sarapan hehe.  Tak lupa juga sajikan ketika hangat, dan baca bismillah tentu nya. Menikmati roti bakar hangat sambil menyeruput teh pahit, bisa juga jadi kudapan pagi untuk memulai hari mu kawan. Alhamdulillah…

Hm… hari ini kita akan ngobrol sedikit  tentang Pillow Talk. Apa yang terlintas di benakmu tentang Pillow Talk kawan? Bercakap – cakap dengan bantal kah? Hehe. Masa iya sih ngobrol sama bantal??? hehe bercanda kawan. Barangkali sudah banyak yang tahu ya tentang Pillow Talk ya,  biasa nya  kawan yang sudah punya pasangan yang  halal yaa yaitu suami atau istri sudah tak asing dengan istilah Pillow Talk sebagai salah  cara komunikasi antar pasangan.

Pillow  Talk bisa dibahas dari sudut pandang psikologi juga sudut pandang komunikasi kalau misalnya kawan kawan googling ya. Namun yang saya pahami Pillow Talk itu adalah bercakap-cakap santai menjelang tidur. Dengan siapa? Dengan orang-orang terdekat yang kita sayangi. Bisa jadi itu suami, bisa juga istri, anak-anak, ibu kita atau ayah kita. Kata beberapa referensi, Pillow Talk itu bisa mengeratkan bonding atau ikatan hati kita dengan lawan bicara kita itu. Bisa juga untuk menguatkan pesan-pesan yang ingin kita sampaikan.

Sebagai contoh, saya terbiasa membacakan buku untuk putri putri saya sejak mereka bayi sebelum tidur.  Menurut saya konsep membacakan buku untuk anak anak itu mirip dengan Pillow Talk yaitu ngobrol santai sebelum tidur.  Satu waktu ketika usia mereka sudah mulai sekolah di Taman Kanak Kanak, saya membacakan buku yang judul nya Tempat-Tempat Bersejarah Umat Terdahulu. Saat itu saya bercerita tentang Piramida Fir’aun. Sekilas materi nya tampak berat ya kawan, ngomongin sejarah ke anak anak yang belum 7 tahun usia nya. Baiklah…, mari kita menghela nafas sebentar kalau kawan kawan merasa berat. Huffft…..

Saya jadi ingat dulu ketika usia saya SMP dan SMA saya tidak suka pelajaran Sejarah. Namun demikian, Alhamdulillah ketika Allah berikan saya amanah putri putri itu… saya jadi belajar sejarah lagi, untuk bahan cerita ke anak anak saya sebelum mereka tidur, dan saya menemukan media nya. Tau apakah itu kawan? haha. Media itu adalah buku. Yup sebuah buku kawan. Alhamdulillah, buku cerita  bergambar itu sangat membantu bunda nya yang dulu gak suka sejarah jadi suka sejarah, yee bunda nya jadi ikut belajar juga deh.

Nahh…cerita tentang Fir’aun itu ternyata ada dalam Qur’an, kawan.

Dan Firaun berkata , “Wahai para pembesar kaumku . Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarkanlah tanah liat untukku, wahai Haman (untuk membuat batu bata), kemudian buatkanlah bangunan yang tinggi untukku agar aku dapat naik melihat Tuhannya Musa, dan aku yakin bahwa dia termasuk pendusta.”

(QS. Al Qashash, surah ke dua puluh delapan, ayat ke tiga puluh delapan)

Pada saat ngetik ini Qodarullah keypad untuk angka delapan nya lagi gak bisa nih, ada yang bisa bantu? ada saran? hehe.., intermezzo itu kawan. Lanjut yaa kawan, melalui ayat yang tadi itu, Allah menunjukkan kepada kita rahasia dari teknologi yang digunakan untuk bangunan tinggi sebuah monumen raksasa Piramida, keajaiban Al Qur’an menunjukkan cara untuk membangun nya dari tanah liat dan ini yang tidak diketahui pada waktu turunnya Al Qur’an hingga zaman modern saat ini.

Telah lama para ilmuwan bingung memikirkan bagaimana caranya sebuah piramida dibangun. Hal ini karena teknologi mengangkat batu-batu besar yang mencapai ribuan kilogram ke puncak puncak bangunan belum ditemukan di zaman nya. Profesor Davidovids telah mengambil batu piramida yang terbesar untuk dilakukan analisis dengan menggunakan mikroskop elektron terhadap batu tersebut dan menemukan jejak reaksi cepat yang menegaskan bahwa batu terbuat dari lumpur.

Sebelum nya, seorang ilmuwan  Belgia, Guy Demortier telah bertahun tahun mencari jawaban dari rahasia di balik pembuatan batu besar di puncak-puncak piramida. Ia pun berkata, “setelah bertahun-tahun melakukan riset dan studi, sekarang saya baru yakin bahwa piramida yang terletak di Mesir dibuat dengan menggunakan tanah liat”. (Piramida Firaun dalam buku 24 Nabi & Rasul Teladan Utama, jilid Tempat-Tempat Bersejarah Umat Terdahulu, h.30-31).

Seperti itulah salah satu kebiasaan berkisah yang mirip konsep Pillow Talk saya dan putri putri saya. Materi nya seperti sejarah yang berat kan.  Namun karena disampaikan nya dengan buku cerita lewat teknik berkisah,jadi lebih ringan kawan in syaa Allah. Anak anak juga Alhamdulillah ingat akan kisah tersebut. Lain waktu misalnya saat dengar kata Firaun, secara spontan kadang mereka akan menceritakan kembali kisah tadi dengan versi bahasa mereka sendiri tentu nya.  Kalau kawan bunda bagaimana? Apa kawan – kawan juga rutin membacakan buku untuk buah hati nya?

Kalau dengan pasangan halal, lain lagi warna “talk” nya. Bukan Pillow Talk kadang. Saya jadi ingat hari dimana bisa pergi berdua saja.  Ya berdua di mobil menikmati perjalanan Depok ke Balai Kartini Jakarta, Alhamdulillah. Saya bisa ngobrol santai sambil sesekali menatap wajah laki-laki itu. Laki-laki  yang kadang tak bisa dekat secara fisik, qadarullah karena amanah pekerjaan nya masih di luar pulau Jawa. Menatap senyumnya begitu dekat, bercanda dan tertawa lepas bersama, Masyaa Allah senangnya.

Ada rasa yang berbeda di hati. Tahukah apa itu kawan? Bisa jadi itulah yang disebut dengan sakinah bersama nya.  Kata Sakinah dalam bahasa Arab memiliki arti kedamaian, tenang, tentram, dan aman. Kata Sakinah ada dalam Al-Qur’an surah 30:21 (Ar-Rum), yang mana pada ayat ini tertulis “Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang.”

Kau tahu apa kawan yang saya ceritakan ke dia? Bukan materi berat seperti kisah sejarah piramida Firaun seperti yang pernah saya ceritakan ke putri-putri kami. Saat itu saya bercerita tentang nyasar nya saya ke tempat jualan dimsum. Padahal niat awal nya mau survey lokasi untuk rekanan bisnis refleksi, bukan kuliner. Saya pergi nya naik kereta, siang siang pula, dengan penuh percaya diri ke tempat lokasi. Tapiii kawan, sampai di tujuan yang saya temui malah yang jualan dimsum, hehe.

Nah bagaimana dengan mu duhai kawan? apa ada cerita mu yang bukan Pillow Talk hehe….

 

 

 

Pulang

Bismillah…

Hai kawan bunda…, bagaimana kabar nya hari ini? Apa ada yang sudah melewati pagi ini dengan berolahraga? Saya jadi terbayang dengan fasilitas umum di salah satu perumahan di kawasan cilangkap tapos Depok yang akhir akhir ini sering saya kunjungi. Ya…, jogging track yang dikelilingi pepohonan, taman penuh tanaman hijau dan bunga bunga berwarna warni. Masyaa Allah indah kawan.

Ada bunga lavender yang saya suka di taman itu. Rumpun rumpun ungu nya rapi sedap dipandang mata. Sekali lagi.. , masyaa Allah luar biasa ciptaan Allah. Apa yang terlintas dalam pikiran mu kawan tentang lavender? Ada yang kau ingat?

Hm…, lavender itu kadangkala kita temukan tulisan & gambar nya di salah 1 varian minyak telon. Yang katanya salah 1 khasiatnya adalah membantu menghindarkan bayi dari gigitan nyamuk & serangga. Nah sudah ingat kan.

Oh ya kawan, lavender ini katanya si wikipedia termasuk dalam genus tumbuhan berbunga dalam. suku Lumiaceae yang tersusun atas 25 – 30 species. Asal tumbuhan ini adalah dari wilayah Selatan Laut Tengah sampai Afrika tropis dan ke timur sampai India — Dunia Lama.

Balik lagi ke taman lavender itu, taman itu mengingatkan saya juga pada sebuah taman yang pernah saya lihat di film. Di taman itu terhampar padang rumput hijau dengan bunga ungu yang berbaris rapi. Disana ada pasangan yang sedang mengobrol penuh cinta, berdiskusi tentang masa depan mereka. Kami (saya & suami saya) menyebut nya dengan istilah “ngobrol visioner”.

Jogging di taman itu adalah salah 1 aktivitas saya dalam menanti suami saya pulang. Yaa kawan…, menanti nya pulang. Pulang ke rumah kami…, rumah kami surga kami in syaa Allah. Rumah yang jadi tempat kami untuk “ngobrol visioner”.

Semoga Allah menjadikan rumah kita surga kita . Semoga Allah menganugerahi kita lelaki dan perempuan yang sholeh yang mendampingi kita . Bukan kah Allah & Rasul Nya telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara nya agar kita dapat menghadirkan surga di rumah kita?

Untuk mu duhai lelaki,

“Cukuplah berdosa bagi seorang yang menyia-nyiakan istrinya,” sabda Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam.

Bahkan tingkat keshalihan seseorang sangat ditentukan oleh sejauh mana sikapnya terhadap istrinya. Kalau sikapnya terhadap istri baik, maka ia adalah seorang pria yang baik.

Sebaliknya, jika perlakuan terhadap istrinya buruk maka ia adalah pria yang buruk. “Hendaklah engkau beri makan istri itu bila engkau makan dan engkau beri pakaian kepadanya bilamana engkau berpakaian, dan janganlah sekali-kali memukul muka dan jangan pula memburukkan dia dan jangan sekali-kali berpisah darinya kecuali dalam rumah.” (Al-Hadits).

Untukmu duhai perempuan,
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” [QS. An Nisa’:34].

Semoga Allah mengistiqomahkan kita semua untuk terus belajar menjadi sebaik baik nya suami dan sebaik baik nya istri dalam pandangan Allah. Aaamiin ya Robbal ‘Alamin.

Wallahu ‘Alam

*catatan belajar bunda

*pengingat diri

*long distance marriage

*cilangkap 23.11.18

Rindu

Ada hari-hari dimana seorang perempuan sampai pada titik kritis dimana dia butuh seseorang untuk menguatkan nya meskipun dia dikenal seseorang yang berpendidikan tinggi, seseorang yang mandiri, atau misalnya seorang yang cuek, gak baperan gitu. Tapi perempuan itu tetaplah seorang perempuan. Fitrah nya perempuan itu apa kawan? Dilindungi, diayomi, didengarkan cerita nya dsb.

Ketika seorang perempuan sudah menikah, dia mungkin punya banyak cerita yang ingin dibagi bukan? Lalu fitrah nya, alamiah nya, sunnatullah nya atau bahasa mudah nya “sudah dari sana nya”, siapa orang pertama yang akan dia cari untuk membuncahkan semua rasa nya l? Bahagia nya, kecewa nya, bersemangat nya, sedihnya, sulitnya, lemahnya, sakitnya, dsb dsb.. Apakah ibunya? Ayahnya? Sahabat nya? Anak anak nya kah?

Bukan kawan, secara alamiah dia akan cari pasangan nya. Ada sakinah bersama pasangan nya. Ada sakinah bersama suami nya. Ada ketentraman bersama suami nya.

Bukan kah Allah telah menyebutkan dalam sebuah ayat yang bisa jadi sering kita baca dalam undangan pernikahan yang sering kita terima. Atau bahkan duluuuu pernah tertulis di surat undangan pernikahan kita?

“Dan di antara tanda – tanda (kebesaran) Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan dari jenis mu sendiri, agar kamu cenderung & merasa tentram kepadanya. Dan dia menjadikan di antaramu rasa kasih & sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum Yang berfikir. ” [Qs. Ar Rum : 21]

Ketika seorang istri punya keinginan cerita pada suami nya, tidak selalu karena dia ingin mengeluh atau mencari solusi tentang sesuatu Yang dia ceritakan. Dia hanya ingin curhat kawan…, hanya ingin didengarkan semua rasanya. Dan curhat pada lelaki nya, pada suami nya adalah salah satu hal yang menentramkan nya.

Apakah kau bosan mendengarkan cerita perempuan mu kawan? Apakah kau lupa bahwa seorang ahli neurologi pernah mengatakan bahwa perempuan mu dalam sehari akan mengatakan 6000-8000 kata, 2000- 3000 bunyi vokal, 8000-10.000 gerakan bahasa tubuh. Singkatnya rata-rata komunikasi perempuan mu sebanyak 20.000 kata-kata. Lalu kemana ribuan kata ini harus dia curahkan? Kalau bukan salah satu nya dengan cerita ke lelaki nya?

Duhai kawan, jika perempuanmu ada di dekatmu maka tolong dengarkanlah curhatnya, meskipun hanya di waktu waktu akhir sibuk mu menjelang tidurmu & lelahmu bekerja seharian.

Duhai kawan, jika perempuan mu jauh, tolong tetap dengarkan juga curhatnya, karena begitu banyak cerita yang ingin dia curahkan tentang anak anak mu, tentang kegiatan nya, tentang betapa RINDU nya dia padamu.

Anggukan kepala suami nya dan ucapan sederhana dengan intonasi lembut “iya sayang”… “Oh begitu yaa” itu sungguh mengobati lelahnya atau kelemahan kelemahan nya dalam menghadapi dunia. Karena apa? Karena ada sakinah di dalam nya, karena ada ketentraman yang Allah sematkan dalam kata kata lembut seorang suami kepada istrinya.

Duhai kawan, jika lelakimu dekat, Alhamdulillah penuh syukur pada Allah karena kau bisa begitu dekat dengan lelaki mu setiap hari.

Duhai kawan, jika lelaki mu jauh darimu, bersyukurlah pada Allah karena membuat RINDU mu semakin menderu saat akan bertemu dengan lelakimu, penuhi sabarmu sambil bisikkan dalam sudut hatimu “Allah Tolong Kuatkan aku, aku RINDU suamiku”.

Lahawla wala quwwata illabillah..

Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah…

Semoga Allah limpahkan sakinah mawaddah wa rohmah untuk pernikahan kita semua..

*cilangkap 22.11.2018

*catatan bunda belajar

Bunda pun masih terus Belajar

Bismillah…

Kata belajar mungkin sudah akrab di telinga kita yang sudah menjadi seorang ibu. Apa yang terlintas dalam pikiran kita tentang belajar bun? Apakah belajar itu adalah kegiatan dalam sebuah ruangan, duduk diam di depan meja, menulis di sebuah buku, menghadap papan tulis, dsb. Ataukah belajar itu ketika kita telah melalui strata pendidikan dari jenjang Play Group/ Kelompok Bermain, Taman Kanak Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Sarjana, Master, atau mungkin ada yang belajar hingga menjadi Doktor?

Apa yang kita cari dalam belajar kita selama ini bunda? Nilai kah, reward manusia kah, atau kah ilmu? Kalau kaitan belajar nya dengan ilmu, ilmu apa yang telah dipelajari selama belajar kita puluhan tahun? Ilmu dunia kah atau ilmu menuju akhirat kah? Atau sudah kedua nya?

Bisa dibilang puluhan tahun saya belajar dari Sekolah Dasar hingga ke jenjang Universitas…, namun setelah menjadi seorang ibu, seorang bunda saya, merasa tersentak bahwa banyak sekali ilmu yang masih harus saya pelajari untuk menjalani kehidupan ini. Karena saya seorang muslimah, maka saya merasa masih banyak ilmu agama yang harus saya pelajari, yang dulu pernah terlupa saya lirik…, Astaghfirulloh.

Menikah & menjadi seorang bunda adalah hal kompleks, ada hal hal yang tidak terprediksi terjadi, bahkan kadang mungkin bikin kita yang perempuan ini menjadi mewek bahkan mungkin termehek mehek yaa bun. Haha. Namun dari situ juga kita jadi kembali belajar kan bun. Belajar bahagia, belajar sabar, belajar mengenal diri, belajar mengenal sekeliling, belajar hal yang duluuu mungkin belum sempat kita pelajari sebelum kita menjadi bunda.

Belajar apa lagi yaa bun? Hm… Belajar move on bun, move on dari baper, move on dari patah hati. Ya gak bun? Hehe.., ternyata setelah jadi bunda, patah hati nya bisa macem macem model nya.., bisa jadi gak cuma terkait sama pasangan kan bun, anak balita nya GTM / gerakan tutup mulut atau bahasa mudah nya gak mau makan, padahal udah disuapin berbagai daya upaya, dalam durasi lama, udah pake resep masakan yang macem macem, ehhh tetep anak nya gak mau makan. Terus bunda nya jadi patah hati ya. Apa ada yang pernah begini bun? Haha.., tapi setelah itu biasanya jadi curhat ya bun, misalnya nanya ke ibu kita, ke temen, ke dokter, “kenapa ya si adek kok gak mau makan? Harus diapain ya, padahal aku kan udah bikinin nasi tim brokoli, udah ku campur kaldu ayam kampung juga kok, tau gak sih aku sampe nyari ayam kampung nya tuh ke perumahan lain, pagi pagi banget udah nyari dimana ya yang jualan ayam kampung, dst…, dst ” (biasanya kan kalo perempuan curhat kan panjang cerita nya ya bun hihihi… 20 ribu kata dalam sehari ya bun yg harus keluar ). Tuh kan sebetulnya dengan nanya itu juga jadi belajar, jadi nyari ilmu kenapa anak gak mau makan. Nanti in syaa Allah jadi ketemu tips tips anak mau makan, atau jadi tau bahan bahan pengganti karbohidrat/ nasi, jadi sumber karbohidrat nya gak mesti dari nasi, bisa dari kentang dsb.

Nahh..itu salah satu contohnya menjadi bunda pun belajar banyak hal, gak melulu belajar nya dalam ruangan kan bun. Namun ada hal hal tertentu yang kita sebaiknya hadir dalam majelis ilmu (lain waktu mungkin saya akan nulis lagi tentang ini).

Alhamdulillah…, seperti nya tulisan hari ini segini dulu. Semoga ada hal yang bermanfaat atas izin Allah.